Kesehatan Masyarakat Veteriner (수의 공중 보건)

Kesehatan masyarakat veteriner (kesmavet) dalam bahasa Inggris dikenal sebagai Veterinary Public Health (VPH) atau dalam bahasa Korea disebut 수의 공중 보건 (suui gongjung bogeon). Istilah ini pertama kali diperkenalkan tahun 1951 dalam pertemuan para ahli zoonosis Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) dan Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (Food and Agriculture Organization/FAO) kedua organisasi ini berada dibawah naungan PBB/UN (Perserikatan Bangsa-Bangsa/United Nations). Dalam pertemuan ini kesmavet didefinisikan sebagai “seluruh usaha masyarakat yang mempengaruhi dan dipengaruhi oleh seni dan ilmu kedokteran hewan yang diterapkan untuk mencegah penyakit, melindungi kehidupan, dan mempromosikan kesejahteraan dan efisiensi manusia” / “veterinary public health comprises all the community efforts influencing and influenced by the veterinary medical arts and sciences applied to the prevention of diseases, protection of life, and promotion of the well-being and efficiency of man”.

Pada tahun 1975 WHO/FAO memodfikasi pengertian kesmavet menjadi “suatu komponen aktivitas kesehatan masyarakat yang mengarah kepada penerapan keterampilan, pengetahuan dan sumberdaya profesi kedokteran hewan untuk perlindungan dan perbaikan kesehatan masyarakat” / “veterinary public health is a component of public health activities devoted to the application of professional veterinary skills, knowledge and resources for the protection and improvement of human health”.

Pada tahun 1999 melalui sebuah pertemuan yang bertema “Tren Kesehatan Masyarakat di Masa Depan” dan diselenggarakan oleh WHO, istilah kesmavet dirumuskan sebagai “kontribusi untuk mencapai kesejahteraan manusia yang menyeluruh baik secara fisik, mental dan sosial melalui pemahaman dan aplikasi ilmu kedokteran hewan” / “veterinary public health is the contribution to the complete physical, mental, and social well-being of humans through an understanding and application of veterinary medical science”.

Kesmavet menurut UU No. 6 Tahun 1967 tentang ketentuan-ketentuan pokok peternakan dan kesehatan hewan dan Peraturan Pemerintah No. 22 Tahun 1983, definisinya adalah “segala urusan yang berhubungan dengan hewan dan bahan-bahan yang berasal dari hewan yang secara langsung atau tidak langsung mempengaruhi kesehatan manusia”.

Kesmavet terdiri dari aplikasi, usaha dan ilmu pengetahuan kedokteran hewan yang berkontribusi dalam melindungi dan meningkatkan kesehatan manusia. Hewan, kesehatan hewan dan ilmu kedokteran hewan berhubungan dengan kesejahteraan fisik, mental dan sosial manusia. Kesmavet juga merupakan penghubung antara bidang pertanian/peternakan dan kesehatan.

Kesmavet akan menjadi semakin berkembang dan penting peranannya karena berbagai perubahan yang terjadi. Perubahan tersebut meliputi peningkatan populasi penduduk, peningkatan urbanisasi, peningkatan kemiskinan, perubahan pemanfaatan lahan, lingkungan dan iklim.

Organisasi dunia yang menangani kesmavet yaitu World Health Organization-WHO, Food and Agriculture Organization-FAO, dan World Organization for Animal Health/Office International des Epizooties-OIE. Sedangkan di Indonesia yaitu Direktorat Kesehatan Masyarakat Veteriner di bawah Direktorat Jendral Peternakan yang berada dibawah naungan Departemen Pertanian. Selain itu juga, Departemen Kesehatan berperan dalam menjamin kesmavet sebagai bagian kesehatan masyarakat.

Bidang utama dalam kegiatan kesehatan masyarakat veteriner terdiri atas:
1. administrasi dan konsultasi

2. pencegahan penyakit pada hewan maupun manusia

3. program kesehatan pangan asal hewani mulai produksi sampai konsumsi

4. riset dan penyidikan penyakit hewan terutama penyakit zoonotik

5. pendidikan kesehatan masyarakat, dan

6. kerjasama antardinas dan disiplin ilmu

Ruang Lingkup dan Fungsi Kesmavet

1. Memberi masukan teknis dalam penyusunan peraturan perundangan, kebijakan, pedoman, perencanaan strategis dan pelaksanaan dalam bidang pengendalian dan pencegahan penyakit hewan dan manusia, sanitasi, higiene, dan lingkungan.

2. Pencegahan dan pengendalian penyakit zoonotik atau zoonosis (penyakit yang ditularkan dari hewan ke manusia).
3. Higiene pangan dan keamanan pangan, termasuk pengendalian foodborne illness (penyakit yang ditularkan melalui makanan).

4. Identifikasi dan evaluasi bahaya-bahaya (hazards) baik biologis, kimiawi, dan fisik yang menimbulkan dampak buruk terhadap kesehatan manusia dan hewan.

5. Pendidikan kesehatan masyarakat.

6. Kerjasama antar instansi/badan dalam rangka menjamin kesehatan hewan, manusia, lingkungan.

감사합니다 – Terima Kasih!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s