S. Enteritidis

Zoonosis juga memiliki pengaruh yang besar terhadap kesehatan manusia sepanjang waktu, dan binatang-binantang liar selalu memiliki peran yang besar di dalamnya. Jumlah total penyakit zoonosis yang diketahui menurut katalog Taylor tahun 2001 ialah dari 1.415 penyakit pathogen manusia, 62%nya merupakan zoonosis dan angka ini kemungkinan akan bertambah terus seiring dengan perkembangan zaman. Dari waktu ke waktu, temuan mengarah pada kenyataan bahwa penyakit patogen manusia umumnya berasal dari hewan. Salah satu contoh dari zoonosis adalah penyakit yang disebabkan oleh S. Enteritidis.

S. Enteritidis bersifat Gram negatif, berbentuk batang (bacilli) pendek, anaerob fakultatif, tidak berspora, ukuran antara 0,7 – 1,5 × 2,0 – 5,0 mm. S. Enteritidis tidak memfermentasi laktosa dan sukrosa, akan tetapi membentuk asam dan juga gas dari glukosa, maltose, dan mannitol. S. Enteritidis memberi reaksi positif terhadap sitrat, lisin, ornithin dekarboksilase, serta memberi reaksi negatif terhadap indol dan urease. Karakteristik lainnya yaitu dapat mereduksi nitrat menjadi nitrit, dapat memfermentasi dulsitol, dan memproduksi H2S (Cox et al, 2000). Tumbuh secara optimal pada suhu 35 – 37 oC dan pH 6,5 – 7,5, terhambat perkembangannya pada suhu 10 oC, dan tidak berkembang sama sekali pada suhu di bawah 5 oC.

Sumber penular kepada manusia adalah hampir semua jenis ternak (sapi, kerbau, babi, kambing, domba, ayam, dll.), hewan liar, dan hewan peliharaan. Berdasarkan urutan potensinya ayam merupakan penular yang utama terhadap manusia. Air dan produk pangan asal hewan (telur, susu, dan daging) juga memiliki potensi untuk tercemar S. Enteritidis terutama pada telur. Kontaminasi S. Enteritidis pada telur diketahui dengan dua mekanisme yaitu melalui induk yang terinfeksi olehS. Enteritidis (vertikal) dan kontaminasi pada kerabang telurnya (horizontal).

Menurut WHO (2002) untuk mengurangi resiko terinfeksi S. Enteritidis pada telur yang akan dikonsumsi, dapat dilakukan cara-cara sebagai berikut:

1.      Menyimpan telur pada pendingin (refrigerator).

2.      Membuang telur yang sudah pecah dan kotor.

3.      Mencuci tangan dengan sabun dan merebus peralatan rumah tangga dengan air setelah kontak dengan telur mentah.

4.      Memakan dengan segera telur yang telah dimasak dan jangan menyimpan telur matang pada suhu kamar lebih dari 4 jam.

5.      Mendinginkan telur yang belum digunakan.

6.      Menghindari makan telur mentah secara langsung (seperti telur sebagai campuran pada minuman atau pada es krim skala rumah tangga).

7.      Menghindari memakan makanan restoran yang menggunakan bahan baku telur mentah atau telur yang belum dipasteurisasi.

 

Untuk lebih lengkapnya silahkan bisa di download file lengkapnya.

download

 

감사합니다 – Terima Kasih!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s