Nilai Kecernaan (PART 2)

Penentuan Kecernaan secara In Vitro


Penentuan kecernaan secara in vitro dilakukan di laboratorium dengan menirukan kondisi pada rumen. Syarat-syarat yang perlu diperhatikan dalam teknik in vitro adalah adanya larutan penyangga (buffer) dan media makanan, temperatur sekitar 39ºC, pH optimal yaitu 6,7-7,0, adanya sumber inokulum, agitasi (pengocokan) dan gas CO2.

Sudah banyak penelitian in vitrmenunjukkan hasil yang sama dengan penelitian in vivo, sehingga  penentuan kecernaan bahan pakan secara in vitro  memiliki beberapa keuntungan, yaitu (1) dapat digunakan untuk menentukan nilai kecernaan pakan dalam waktu yang relatif singkat, (2) mengurangi resiko kematian ternak, (3) lebih ekonomis dan (4) mewakili penampilan ternak.  Kelemahan teknik in vitro diantaranya  media yang digunakan tidak mungkin mempunyai kondisi yang sama seperti pada teknik in vivo, kecernaan secara in vitro dilakukan di dalam tabung, sedangkan pada teknik in vivo langsung menggunakan ternak.  Ada beberapa faktor yang mempengaruhi hasil metode in vitro, yaitu: populasi mikroba dalam cairan rumen yang digunakan, penyiapan jenis sampel, pH selama inkubasi dan prosedur selama pelaksanaan.

Percobaan in vitro berdasarkan metode Tilley dan Terry (1963) terdiri dari dua tahap.  Tahap pertama proses dilakukan dalam tabung yang telah diisi satu bagian cairan rumen dan empat bagian saliva buatan atau larutan buffer yang berfungsi sebagai rumen tiruan.  Proses pencernaan pada rumen tiruan berlangsung selama 48 jam.  Kemudian pada tahap kedua kondisi abomasum dibuat dengan menambahakan larutan asam pepsin yang berfungsi sebagai pencerna makanan dalam abomasum.  Pencernaan dalam abomasum berlangsung selama 48 jam.  Sedangkan proses penyerapan zat-zat makanan dalam usus halus ditirukan dengan menyaring sampel yang telah mengalami fermentasi dalam rumen dan inkubasi dalam abomasum tiruan.  Bagian zat-zat makanan yang lolos melalui saringan dianggap telah tercerna.  Selisih antara bahan organik dari bahan asal dengan bahan organik sisa pencernaan merupakan bahan organik yang telah tercerna.

Bersambung….

Sumber: Skripsi “Pengaruh Tingkat Penggunaan Limbah Tape Singkong dalam Ransum terhadap Kecernaan Bahan Kering dan Bahan Organik Ransum Domba Lokal” Lilis Anitasari (200110060035)

감사합니다 – Terima Kasih!

2 thoughts on “Nilai Kecernaan (PART 2)

  1. bagus tulisannya sayang daftar pustakanya gag ada jadi klw mau dikutip susah juga boleh mintak daftar pustakanya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s