Nilai Kecernaan (PART 4)

Kecernaan Bahan Organik

            Bahan organik merupakan bahan kering yang telah dikurangi abu, komponen bahan kering bila difermentasi di dalam rumen akan menghasilkan asam lemak terbang yang merupakan sumber energi bagi ternak.  Kecernaan bahan organik dalam saluran pencernaan ternak meliputi kecernaan zat-zat makanan berupa komponen bahan organik seperti karbohidrat, protein, lemak dan vitamin.   Bahan-bahan organik yang terdapat dalam pakan tersedia dalam bentuk tidak larut, oleh karena itu diperlukan adanya proses pemecahan zat-zat tersebut menjadi zat-zat yang mudah larut.  Faktor yang mempengaruhi kecernaan bahan organik adalah kandungan serat kasar dan mineral dari bahan pakan.  Kecernaan bahan organik erat kaitannya dengan kecernaan bahan kering, karena sebagian dari bahan kering terdiri dari bahan organik.  Penurunan kecernaan bahan kering akan mengakibatkan kecernaan bahan organik menurun atau sebaliknya.

Karbohidrat merupakan komponen yang paling berpengaruh diantara komponen bahan organik dalam penentuan kecernaan bahan organik karena karbohidrat sebagai penghasil energi adalah komponen terbesar dalam pakan.  Karbohidrat adalah zat organik utama yang terdapat dalam tumbuh-tumbuhan dan biasanya mewakili 50 sampai 75% dari jumlah bahan kering dalam bahan makanan ternak.   Karbohidrat memiliki nilai kelarutan yang tinggi di dalam air, sehingga memudahkan proses pemanfaatannya.  Perombakan karbohidrat di dalam rumen terbagi menjadi dua tahap.  Pada tahap pertama berlangsung perombakan yang kompleks seperti selulosa, hemiselulosa, pati, dextran, xylan dan pectin menjadi gula-gula sederhana.  Hasil yang terbentuk pada tahap pertama ini akan segera dimetabolisme pada tahap dua menjadi asam lemak terbang yang terdiri atas asam asetat, propionat dan butirat yang mencapai 80% dan 20% merupakan energi yang terbuang dalam bentuk produksi gas CO2, CH4 dan energi dalam bentuk ATP.  Produk fermentasi (VFA) di dalam rumen diserap melalui epitel rumen dan menjadi sumber energi utama pada ternak ruminansia.  Sebagian besar mikroba yang tumbuh dalam rumen bersama digesta akan bergerak ke abomasum untuk selanjutnya mengalami pencernaan enzimatis dan penyerapan.  Untuk mendukung proses metabolisme tersebut, pergerakan dan kontraksi dinding rumen sangat berperan.  Pergerakan dan kontraksi tersebut membantu proses pengadukan digesta dan inokulasi partikel pakan, ruminasi dan pergerakan digesta ke abomasum.

Pada pencernaan protein, di dalam rumen protein akan mengalami hidrolisis oleh enzim proteolitik menjadi asam amino dan oligopeptida, selanjutnya asam-asam amino mengalami katabolisme lebih lanjut menghasilkan amonia, VFA dan CO2.  Amonia menjadi sumber nitrogen utama untuk sintesis asam-asam amino bagi mikroba rumen.  Proses metabolisme tersebut mengungkapkan bahwa nutrisi protein ternak ruminansia sangat bergantung pada proses sintesis protein mikroba rumen.   Produk hidrolisa protein sebagai besar akan mengalami katabolisme lebih lanjut (deaminasi), sehingga dihasilkan amonia (NH3). Amonia asal perombakan protein pakan tersebut sangat besar kontribusinya terhadap amonia rumen. Diperlukan kisaran konsentrasi amonia tertentu untuk memaksimumkan laju sintesa protein mikroba, karena itu kelarutan dan degradibilitas protein pakan sangat penting untuk diketahui.

Amonia (NH3) merupakan produk utama dari proses deaminasi asam amino.  Kecukupannya dalam rumen untuk memasok sebagian besar N untuk pertumbuhan mikroba merupakan prioritas utama dalam mengoptimalkan fermentasi hijauan. Amonia di dalam rumen ikut menentukan efisiensi sintesa protein mikroba yang pada gilirannya akan mempengaruhi hasil fermentasi bahan organik pakan.  Konsentrasi amonia menggambarkan kecepatan produksi dari pencernaan nitrogen.  Konsentrasi amonia tersebut antara lain ditentukan oleh tingkat protein pakan yang dikonsumsi, derajat degradabilitasnya, lamanya makanan berada di dalam rumen dan pH rumen.  Konsentrasi amonia sebesar 50 mg/100ml (setara dengan 3,57 mM) di dalam cairan rumen dapat dikatakan optimum untuk menunjang sintesa protein mikroba rumen, sedangkan kadar amonia yang dibutuhkan untuk menunjang pertumbuhan mikroba rumen yang maksimal antara 4-12 mM.

Sumber: Skripsi “Pengaruh Tingkat Penggunaan Limbah Tape Singkong dalam Ransum terhadap Kecernaan Bahan Kering dan Bahan Organik Ransum Domba Lokal” Lilis Anitasari (200110060035)

감사합니다 – Terima Kasih!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s