Mikroba Rumen (PART 1)

Adanya mikroba dan aktifitas fermentasi di dalam rumen merupakan salah satu karakteristik yang membedakan sistem pencernaan ternak ruminansia dengan ternak lain.  Mikroba tersebut sangat berperan dalam mendegradasi pakan yang masuk ke dalam rumen menjadi produk-produk sederhana yang dapat dimanfaatkan oleh mikroba maupun induk semang.

Populasi mikroba rumen secara umum ditentukan oleh tipe makanan yang telah dikonsumsi oleh ternak.  Populasi mikroba dan proporsi dari setiap jenisnya tidak tetap akan tetapi berubah-ubah, perubahan ini akan mencapai suatu keseimbangan yang baru yang sesuai dengan perubahan jenis pakan, hal ini terjadi karena setiap jenis mikroba rumen mempunyai spesifikasinya masing-masing dalam mencerna bahan pakan.

Ekosistem mikrobial dalam cairan rumen sebagian besar terdiri dari bakteri, protozoa, dan sedikit fungi, disamping itu terdapat juga mycoplasma, virus, dan bacteriophage dalam jumlah yang sangat sedikit.  Terdapat interaksi yang luas antara mikroorganisme dalam rumen, bentuk interaksi tersebut dapat berupa saling ketergantungan akan subtrat, saling menguntungkan, kompetisi subtrat atau berupa hubungan yang bisa merugikan.

Kelompok utama mikroba yang berperan dalam proses pencernaan terdiri dari bakteri, protozoa dan jamur yang jumlah dan komposisinya bervariasi tergantung pada pakan yang dikonsumsi ternak.  Volume mikroba rumen kurang lebih 3,6% dari total cairan rumen yang terdiri dari 50% siliata dan 50% bakteri ukuran kecil.

Mikroba dalam rumen dapat ditemukan dalam tiga lokasi di rumen, yaitu menempel pada dinding rumen, menempel pada partikel-partikel makanan, dan bebas dalam cairan rumen.  Proporsi terbesar yaitu bergabung dengan partikel-partikel makanan.  Adanya bakteri dan protozoa ini menyebabkan ternak ruminansia dapat mencerna pakan yang mengandung serat tinggi, keperluan asam amino untuk nutrisi protein tidak banyak, bergantung pada kualitas pakan, mampu mengubah sembarang nitrogen menjadi protein berkualitas tinggi, produk fermentasi disalurkan ke usus halus dalam bentuk yang lebih mudah dicerna.  Mikroba tersebut dapat bersifat sacharolitik dan proteolitik.

Nilai pH merupakan salah satu faktor yang sangat menentukan terhadap populasi mikroba dalam rumen.  Misalnya jumlah protozoa terutama untuk genus Isotricha dan Entodinia akan tinggi jika pH rumen sekitar 5,5 akan tetapi akan cepat menurun jika pH rumen berada dibawah 5,5.  Kerja bakteri selulolitik akan terhambat jika pH cairan rumen lebih rendah dari 6 dan kerjanya akan meningkat jika pH berada di atas 6, sedangkan untuk bakteri amilolitik akan memperlihatkan kerja yang meningkat jika pH di bawah 6 dan makin menurun kerjanya jika pH berada di atas 6.

Penurunan pH terjadi karena fermentasi yang cepat dari karbohidrat non struktural, yang akan menyebabkan pengeluaran saliva ke dalam rumen berkurang, selain itu terakumulasinya asam laktat dalam jumlah yang besar dalam rumen diakibatkan oleh asimilasi pakan yang tinggi kandungan gulanya oleh protozoa holotriks yang disimpan dalam bentuk amylopektin.

Perkembangan populasi mikroba rumen terutama bakteri rumen akan dibatasi oleh kadar amonia cairan rumen yang rendah, karena ini sangat diperlukan agar pertumbuhan mikroba optimal yaitu 50-80 mg/liter.  Populasi mikroba dalam rumen juga ditentukan oleh kecepatan pertumbuhan serta waktu pemberian pakan.

Bersambung…

Sumber: Skripsi “Pengaruh Penggunaan Limbah Tape Singkong dalam Ransum terhadap Konsentrasi NH3 dan Produksi Gas Total pada Cairan Rumen Domba (In Vitro)” Risman Ismail (200110060015)

감사합니다 – Terima Kasih!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s