Percobaan In Vitro

Teknik kecernaan in vittro memiliki keuntungan lebih singkat, lebih ekonomis, tidak adanya resiko kematian pada ternak, dan prediksi yang tidak berbeda jauh dengan metode in vivo atau yang biasa dilakukan untuk mengukur kecernaan pada ternak ruminansia.  Dasar dari metode ini adalah menirukan proses yang terjadi dalam rumen dan cara yang paling sering digunakan adalah teknik in vitro yang ditemukan oleh Tilley dan Terry (1963).  Pola degradasi di dalam rumen dapat dipelajari dengan menggunakan variasi waktu inkubasi pada metode standar.  Metode in vitro juga dapat digunakan untuk mengetahui konsentrasi produk akhir fermentasi.  Banyak peneliti telah memodifikasi prosedur Tilley dan Terry (1963), seperti yang telah dilakukan oleh Sutardi (1979).

Metode in vitro adalah proses metabolisme yang terjadi di luar tubuh ternak.  Prinsip dan kondisinya sama dengan proses yang terjadi di dalam tubuh ternak yang meliputi proses metabolisme dalam rumen dan abomasum. pH rumen dan reticulum berkisar antara 5,5-7,0 dan bervariasi sesuai dengan rasio pemberian konsentrat.

Metode in vitro (metode tabung) harus menyerupai sistem in vivo agar dapat menghasilkan pola yang sama sehingga nilai yang didapat juga tidak terlalu berbeda jauh dengan pengukuran secara in vivo.  Kecernaan pakan pada ternak ruminansia dapat diukur secara akurat dengan menggunakan metode two stage in vitro dengan cara menginkubasikan sampel selama 48 jam dengan larutan buffer cairan rumen dalam tabung dalam keadaan kondisi anaerob.  Periode kedua, bakteri dimatikan dengan penambahan asam hidroklorit (HCl) pada pH 2, lalu diberi larutan pepsin HCl dan diinkubasi selama 48 jam.  Periode kedua ini terjadi dalam organ pasca rumen (abomasum).  Residu bahan yang tidak larut disaring, kemudian dikeringkan dan dipanaskan hingga substrat tersebut dapat digunakan untuk mengukur kecernaan bahan organik.

Metode pengukuran gas (gas test) digunakan untuk mengevaluasi nilai nutrisi pakan dan kecernaan bahan organik serta energi metabolis yang terkandung dalam pakan.  Metode ini menggunakan syringe atau Gas Measuring Cylinder yang mengutamakan produk fermentasi.  Metode gas in vitro ini lebih efisien bila dibandingkan dengan metode in sacco dalam mengevaluasi efek dari zat anti nutrisi.  Metode pengukuran gas tidak memerlukan peralatan yang rumit atau ternak yang terlalu banyak, membantu dalam pemilihan pakan yang berkualitas tidak hanya berdasarkan kecernaan bahan kering akan tetapi juga dengan sintesis mikroba.  Hasil dari metode ini didapatkan berdasarkan produksi gas CO2 dan CH4 yang berasal dari proses fermentasi pakan dalam cairan rumen.

Sumber: Skripsi “Pengaruh Penggunaan Limbah Tape Singkong dalam Ransum terhadap Konsentrasi NH3 dan Produksi Gas Total pada Cairan Rumen Domba (In Vitro)” Risman Ismail (200110060015)

감사합니다 – Terima Kasih!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s