Fisiologi Pencernaan Ruminansia (PART3)

Fermentasi Pakan dalam Rumen

Rumen adalah suatu ekosistem yang kompleks yang dihuni oleh mikroba anaerob yang keberadaannya sangat banyak tergantung pada pakan.  Mikroba tersebut terdiri dari bakteri, protozoa, dan fungi yang memegang peranan penting dalam pencernaan pakan pada ternak ruminansia.  Kebanyakan mikroorganisme tersebut bersifat anaerob murni (strictly anaerobic), yaitu mereka yang hidup tanpa menggunakan oksigen.  Banyak spesies mikroorganisme rumen yang diisolasi ternyata sangat sensitive terhadap oksigen, tetapi ada juga yang bukan saja toleran terhadap jumlah oksigen yang sedikit, tetapi juga menggunakannya dalam proses metabolismenya, yaitu bakteri yang bersifat anaerob fakultatif.  Aktivitas mikroorganisme rumen tersebut mengubah nutrien pakan secara fermentatif menjadi senyawa lain yang berbeda dari molekul nutrient asalnya, misalnya protein yang dirombak menjadi amonia, karbohidrat dirombak menjadi VFA, gas CO2, dan gas methan (CH4).

Fermentasi adalah segala macam proses metabolis dengan bantuan enzim dari mikroba (jasad renik) untuk melakukan oksidasi, reduksi, hidrolisa, dan reaksi kimia lainnya, sehingga terjadi perubahan kimia pada suatu substrat organik dengan menghasilkan produk tertentu.  Fermentasi merupakan proses biokimia yang dapat menyebabkan terjadinya perubahan sifat bahan pangan sebagai akibat dari pemecahan kandungan bahan tersebut.

Berdasarkan perubahan yang terjadi dalam alat pencernaan, proses pencernaan dibagi menjadi tiga jenis (1) pencernaan mekanik yang terjadi di mulut, (2) pencernaan fermentatif yang terjadi di dalam rumen, dimana mikroba merombak zat makanan secara fermentatif sehingga menjadi senyawa yang berbeda dari molekul zat makanan asalnya, (3) pencernaan hidrolitik yang terjadi di dalam perut dan usus, dimana bahan makanan diurai menjadi molekul-molekul kecil oleh enzim-enzim pencernaan.

Keuntungan ruminansia yang mempunyai organ fermentatif sebelum usus halus adalah: (1) dapat mencerna bahan makanan berkadar serat kasar tinggi sehingga bahan makanannya sebagian tidak bersaing dengan manusia, (2) mampu mengubah sembarang N termasuk Non Protein Nitrogen (NPN) seperti urea menjadi protein bermutu tinggi, (3) keperluan asam amino untuk memenuhi nutrisi proteinnya tidak bergantung kepada kualitas protein makanannya, (4) produk fermentatif dalam rumen dapat disajikan ke dalam usus halus dalam bentuk yang mudah dicerna, dan (5) kapasitas rumen yang sangat besar, mampu menampung banyak sekali makanan sehingga proses makannya dapat berjalan dengan cepat.

Proses pencernaan fermentatif yang terjadi dalam retikulorumen dibantu oleh mikroba yang jumlahnya cukup besar yaitu mikroflora (bakteri) dan mkirofauna (protozoa).  Mikroba rumen akan mencerna karbohidrat, sebagian protein dan asam lemak menjadi Volatile Fatty Acid (VFA), amonia (NH3), gas CO2, dan metan (CH4).  Amonia untuk membangun sel mikroba sedangkan VFA akan diserap langsung dari rumen dan retikulum untuk dimanfaatkan oleh ternak sebagai sumber energi sedangkan untuk gas CO2 dan metan akan dikeluarkan melalui proses eruktasi.

Makanan ruminansia banyak mengandung selulosa, hemiselulosa, pati, dan karbohidrat yang larut dalam air dan fruktan-fruktan.  Proses degradasi dan fermentasi karbohidrat dalam rumen dapat dibagi menjadi tiga tahap yaitu (1) pemecahan pertikel makanan yang menghasilkan polimer karbohidrat, (2) hidrolisa polimer menjadi sakarida sederhana (glukosa), dan (3) fermentasi sakarida sederhana menghasilkan VFA berupa asetat, propionate, dan butirat, serta gas CO2 dan CH4.

Fermentasi makanan oleh mikroba rumen akan berlangsung dengan baik jika didukung oleh kondisi yang sesuai untuk kehidupan mikroba.  Faktor-faktor yang perlu diperhatikan adalah kondisi rumen mendekati anaerob, pH diusahakan 6,6-7,0 dengan saliva sebagai larutan penyangga (buffer), kontraksi rumen menambah kontak antara enzim dengan makanan, laju pengosongan rumen diatur selalu terisi walaupun ternak menderita lapar dalam waktu yang lama, serta suhu rumen konstan, faktor tersebut diperlukan untuk kelangsungan proses fermentasi.

Bersambung…

Sumber: Skripsi “Pengaruh Penggunaan Limbah Tape Singkong dalam Ransum terhadap Konsentrasi NH3 dan Produksi Gas Total pada Cairan Rumen Domba (In Vitro)” Risman Ismail (200110060015)

감사합니다 – Terima Kasih!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s