Rabies

Sinonim

hydrophobia, la rage (Prancis), la rabbia (Italia), la rabia (Spanyol), die tollwut (Jermn), anjing gila (Indonesia, dll.

Penyebab

Penyebabnya adalah virus rabies yang termasuk ke dalam famili Rhabdoviridae.  Berikut adalah klasifikasinya:

Order     : Mononegavirales
Famili     : Rhabdoviridae
Genus     : Lyssavirus
Spesies  : Rhabdovirus (Virus Rabies)
Virus terdapat dalam air liur hewan yang telah terinfeksi. Kemudian ditularkan melalui gigitan ataupun jlatan. Virus kemudian akan berpindah dari air liur masuk ke saraf-saraf dan otak dan berkembangbiak. Selanjutnya virus akan ke kelenjar air liru dan mencemarinya.
Virus Rabies
Sumber Infeksi dan Penularan
Virus terdapat dalam air liur hewan yang telah terinfeksi. Infeksi ditularkan melalui gigitan hewan penderita seperti anjing, kucing, kera, dan kelelawar yang menggigit hewan lainnya. Hewan pemamah biak yang tergigit dan menderita rabies belum tentu dapat menularkan kepada hewan lainnya.
Infeksi rabies pada manusia  biasanya terjadi akibat digigit oleh hewan yang terinfeksi terutama dari anjing. Potensi penularan umumnya terjadi bila ada jilatan pada kulit yang terluka. Masa inkubasi pada manusia umumnya sekita 3-8 minggu tergantung daerah yang digigit dan umur. Semakin dekat gigitan ke otak maka masa inkubasi akan semakin pendek. Begitu juga dengan umur, pada anak-anak biasanya akan memiliki masa inkubasi yang lebih pendek daripada orang dewasa. Penularan antar manusia pernah dilaporkan terjadi ketika menerima transplantasi kornea untuk penularan lainnya belum pernah dilaporkan.
Penularan antara hewan liar dengan domestikasi
Pola penyebaran rabies di Indonesia
Gejala Penyakit
Penyakit ini kebanyakan menyerang anjing (merupakan vektor utama penyebar rabies). Gejalanya adalah hewan berubah menjadi penakut/galak, senang bersembunyi ditempat-tempat gelap dan dingin, dapat menjadi lebih agresif, hewan akan menyerang benda disekitarnya, tidak penurut, nafsu makan hilang, air liur melelh terus, kejang-kejang yang disusul dengan kelumpuhan.
Kucing merupakan salah satu hewan yang dapat menularkan rabies juga. Gejala yang timbul yaitu: kucing menjadi lebih agresif, sering mengeong, dan sering menyerang secara tiba-tiba.
Untuk jenis hewan ternak ruminansia juga dapat tertular seperti kuda, sapi, domba, atau kambing namun tidak berpotensi menjadi penular bagi manusia. Binatang berdarah panas termasuk kelelawar dapat menjadi pembawa penyakit dengan gejala pada hewan yaitu: tampak jinak, sering keluar di siang hari, menyerang secara tiba-tiba, dan terjadi kelumpuhan.
Gejala pada manusiayang terinfeksi rabies meliputi 4 stadium:
  1. Stadium prodromal. Dalam stadium prodomal sakit yang timbul pada penderita tidak khas, menyerupai infeksi virus pada umumnya yang meliputi demam, sulit makan yang menuju taraf anoreksia, pusingdan pening (nausea), dan lain sebagainya.
  2. Stadium sensoris. Dalam stadium sensori penderita umumnya akan mengalami rasa nyeri pada daerah luka gigitan, panas, gugup, kebingungan, keluar banyak air liur (hipersalivasi), dilatasi pupil, hiperhidrosis, hiperlakrimasi.
  3. Stadium eksitasi. Pada stadium eksitasi penderita menjadi gelisah, mudah kaget, kejang-kejang setiap ada rangsangan dari luar sehingga terjadi ketakutan pada udara (aerofobia), ketakutan pada cahaya (fotofobia), dan ketakutan air (hidrofobia). Kejang-kejang terjadi akibat adanya gangguan daerah otak yang mengatur proses menelan dan pernapasan. Hidrofobia yang terjadi pada penderita rabies terutama karena adanya rasasakit yang luar biasa di kala berusaha menelan air.
  4. Stadium paralitik. Pada stadium paralitik setelah melalui ketiga stadium sebelumnya, penderita memasuki stadium paralitik ini menunjukkan tanda kelumpuhan dari bagian atas tubuh ke bawah yang progresif.

Karena durasi penyebaran penyakit yang cukup cepat maka umumnya keempat stadium di atas tidak dapat dibedakan dengan jelas. Gejala-gejala yang tampak jelas pada penderita di antaranya adanya nyeri pada luka bekas gigitan dan ketakutan pada air, udara, dan cahaya, serta suara yang keras.

Diagnosis

Jika seseorang digigit hewan, maka hewan yang menggigit harus diawasi. Satu-satunya uji yang menghasilkan keakuratan 100% terhadap adanya virus rabies adalah dengan uji antibodi fluoresensi langsung (direct fluorescent antibody test/ dFAT) pada jaringan otak hewan yang terinfeksi. Uji ini telah digunakan lebih dari 40 tahun dan dijadikan standar dalam diagnosis rabies. Prinsipnya adalah ikatan antara antigen rabies dan antibodi spesifik yang telah dilabel dengan senyawa fluoresens yang akan berpendar sehingga memudahkan deteksi Namun, kelemahannya adalah subjek uji harus disuntik mati terlebih dahulu (eutanasia) sehingga tidak dapat digunakan terhadapmanusia. Akan tetapi, uji serupa tetap dapat dilakukan menggunakan serum, cairan sumsum tulang belakang, atau air liur penderita walaupun tidak memberikan keakuratan 100%. Selain itu, diagnosis dapat juga dilakukan dengan biopsi kulit leher atau sel epitel kornea mata walaupun hasilnya tidak terlalu tepat sehingga nantinya akan dilakukan kembali diagnosis post mortem setelah hewan atau manusia yang terinfeksi meninggal.

Pencegahan

Adapun langkah-langkah pencegahan rabies dapat dilihat dibawah ini :

  1. Tidak memberikan izin untuk memasukkan atau menurunkan anjing, kucing, kera dan hewan sebangsanya di daerah bebas rabies.
  2. Memusnahkan anjing, kucing, kera atau hewan sebangsanya yang masuk tanpa izin ke daerah bebas rabies.
  3. Dilarang
  4. melakukan vaksinasi atau memasukkan vaksin rabies kedaerah-daerah bebas rabies.
  5. Melaksanakan vaksinasi terhadap setiap anjing, kucing dan kera, 70% populasi yang ada dalam jarak minimum 10 km disekitar lokasi kasus.
  6. Pemberian tanda bukti atau pening terhadap setiap kera, anjing, kucing yang telah divaksinasi.
  7. Mengurangi jumlah populasi anjing liar atan anjing tak betuan dengan jalan pembunuhan dan pencegahan perkembangbiakan.
  8. Menangkap dan melaksanakan observasi hewan tersangka menderita rabies, selama 10 sampai 14 hari, terhadap hewan yang mati selama observasi atau yang dibunuh, maka harus diambil spesimen untuk dikirimkan ke laboratorium terdekat untuk diagnosa.
  9. Mengawasi dengan ketat lalu lintas anjing, kucing, kera nan hewan sebangsanya yang bertempat sehalaman dengan hewan tersangka rabies.
  10. Membakar dan menanam bangkai hewan yang mati karena rabies sekurang-kurangnya 1 meter.
감사합니다 – Terima Kasih!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s