Pengolahan dan Penyimpanan Hijauan Pakan

Di daerah-daerah tropis yang hanya dua musim (hujan dan kemarau) sering sekali mengalami fluktuasi dalam penyediaan hijauan pakan. Musim penghujan merupakan musim yang kaya akan hijauan pakan dan bahkan sering kali produksinya melebihi dari kebutuhan, sedangkan pada musim kemarau merupakan musim paceklik atau miskin hijauan sehingga seringkali hijauan yang ada mempunyai kualitas yang rendah. Sehingga penyediaan pakan ternak yang berkualitas tidak dapat mencukupi kebutuhan sepanjang tahun apabila tidak diatasi dengan pengawetan (pengolahan) serta penyimpanan hijauan secara baik.

Namun, sampai saat ini cara-cara untuk mengatasi kekurangan penyediaan pakan ternak tersebut masih dalam jumlah yang sangat terbatas terutama bagi peternak. hal ini dapat disebabkan berbagai faktor penghambat diantaranya adalah terbatasnya modal, lahan serta tingkat pengetahuan yang dimiliki. Kekurangan persediaan pakan terutama hijauan pada musim kemarau akan mengakibatkan kerugian yang cukup besar bagi peternak karena pada umumnya ternak menjadi kurus, produksi susu turun, kegagalan reproduksi dan lain-lain. Untuk menghindari masa-masa kritis dalam penyediaan pakan hijauan ini, dapat ditempuh beberapa alternatif antara lain adalah :

  1. Menanam lebih dari satu jenis hijauan, sebab setiap jenis hijauan akan meng-alami puncak produksi yang berlainan. Apabila pengaturan penanaman dilakukan dengan tepat, maka kekurangan hijauan dalam batas-batas tertentu dapat diatasi.
  2. Menjaga kesuburan tanah secara maksimal guna meningkatkan puncak produksi.
  3. Mengawetkan atau mengolah hijauan yang berlebihan pada musim hujan dan diberikan pada musim kemarau, yaitu dalam bentuk silase, hay maupun jerami olahan.
Adapun tujuan dari pengolahan pakan itu sendiri, antara lain:
  • Meningkatkan kualitas bahan
  • Memudahkan penyimpanan
  • Pengawetan
  • Meningkatkan palatabilitas
  • Meningkatkan efisiensi pakan
  • Memudahkan penanganan dan pencampuran pada pembuatan pakan jadi.

Banyak metode perlakuan terhadap hijauan dalam rangka mengolahnya, antara lain dipotong-potong (chopping), diikat (baling), dibuat seperti wafer (wafering), atau dibuat pellet (pelleting).

  • Long hay, adalah hijaun yang dipotong dan dikeringkan, lalu disimpan dalam gudang tanpa perlakuan pemotongan pendek.
  • Chopped hay, adalah hijauan yang dipotong pendek-pendek, dikeringkan, lalu disimpan. Metode ini kurang disukai, karena penyimpanannya menyita ruang, berdebu, dan dapat terbakar jika kurang kering menjemurnya.
  • Balled hay, adalah pengikatan hijauan kering dengan tiga utas kawat, beratnya sekitar 55-56 kg. Metode ini mudah disimpan dan diangkut, dengan catatan pada saat pengikatan hijauan jangan terlalu kering dan jangan terlalu basah.
  • Pelleting, yakni rumput kering, digiling dan dibuat pellet, mudah diperlakukan dan disimpan. Pemberian pellet dalam jumlah besar, menyebabkan sapi menjadi lebih cepat bertambah berat dan dalam beberapa hal menyebabkan pula peningkatan produksi susu. Namun, adanya peningkatan produksi asam propionat akibat pemberian pellet, dapat menyebabkan turunnya produksi susu.
  • Wafering, adalah hijauan kering yang dipotong-potong sepanjang 1,5 inch, lalu dipress untuk dibentuk balok berukuran 2,00 x 1,25 x 1,25 inch. Dengan bentuk ini, lebih sedikit ruang yang dipergunakan untuk penyimpanan, penanganan lebih mudah dan jumlah yang dapat diangkut lebih banyak.

Sumber: Master Kuliah Manajemen Ternak Perah FAPET UNPAD

감사합니다 – Terima Kasih!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s