Analisis Bahan Pakan

Kualitas bahan pakan dapat ditentukan dengan menganalisis bahan pakan tersebut, dan kualitas bahan pakan ini akan menentukan harganya. Oleh karena itu, analisis bahan pakan harus dilakukan sebelum kita membeli bahan pakan tersebut.  Analisis terhadap bahan pakan dapat dilakukan secara:

  • Fisik         (physical evaluation of feedstuffs)
  • Kimiawi   (chemical analysis)
  • Biologis   (biological analysis)

Analisis terhadap pakan yang paling murah dan mudah adalah analisis secara fisik.  Oleh karena itu, metode evaluasi inilah yang disarankan untuk digunakan sebagai langkah awal sebelum pembelian dilakukan.  Evaluasi secara fisik pada umumnya dilakukan berdasarkan :

  • Pengamatan mata
  • Perabaan
  • Penciuman, dan jika diperlukan
  • Uji rasa

Kriteria kelaikan mutu pada hijauan mempunyai catatan tersendiri untuk setiap jenis pakan (segar, hay, atau silage).

Kriteria kelaikan mutu pada butiran terhadap kelaikan mutunya didasarkan pada :

  • Keberadaan biji yang pecah atau belah
  • Kandungan air yang rendah (secara umum sekitar 12%)
  • Mempunyai warna yang bagus (spesifik untuk masing-masing jenis)
  • Bebas dari jamur
  • Bebas dari kerusakan oleh tikus dan serangga
  • Bebas dari benda asing (terutama logam), dan
  • Bebas dari bau tengik

Pengujian secara kimiawi telah berkembang cukup lama, Henneberg dan Stohmann pegawai Weende Experiment Station di Jerman, sejak akhir abad XIX telah mengem-bangkan prosedur pengujian proksimat terhadap suatu bahan, yang disebut prosedur Weende.  Prosedur ini melakukan pengujian terhadap kandungan (kadar):

  1. Air
  2. Abu
  3. Protein kasar
  4. Lemak kasar
  5. Serat kasar, dan
  6. Bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN)

Selanjutnya, Peter J. Van Soest dari USDA Beltville National Research, sekitar tahun 1960’an, mengembangkan prosedur pengujian yang memisahkan serat kasar menjadi dua bagia, yakni neutral detergent fiber (NDF) dan acid detergent fiber (ADF), selanjutnya ADF diuraikan lagi menjadi acid detergent lignin (ADL).

Kandungan NDF berhubungan erat dengan konsumsi pakan, sebab seluruh komponennya memenuhi ruang rumen dan lambat dicerna, lebih rendah kandungan NDF lebih banyak pakan dapat dikonsumsi.  Kandungan ADF merupakan indikator kecernaan hijauan, karena kandungan lignin merupakan bagian dari fraksi yang dapat dicerna.  NDF selalu lebih besar dari ADF, karena ADF tidak mengandung hemiselulosa.

Pengujian biologis biasanya bersifat laboratorium, sulit, lama, untuk mengetahui mikro nutrient dalam pakan, bersyarat seragam dalam penggunaan ternaknya (umum, jenis kelamin, dan bobot badan).

Analisis secara fisik hanya digunakan untuk menduga kualitas dan melihat ke-murnian bahan pakan tersebut.  Dengan demikian, jika tingkat pembelian mencapai jumlah yang banyak, layak kiranya untuk dilanjutkan dengan pengujian secara kimiawi, untuk mengetahui kandungan gizinya.

 

Sumber: Master Kuliah Manajemen Ternak Perah FAPET UNPAD dan beberapa sumber lainnya.

감사합니다 – Terima Kasih!

5 thoughts on “Analisis Bahan Pakan

  1. assalmualaykum. saya luthfie dr peternakan unila sdng menyelesaikan skripsi nah membutuh kan metode, alat dan bahan yang sesuai dg referensi karena di unila jarang digunakan untuk praktiukum sehingga referensinya kurang,bisa minta tlog ga?klw bisa saya dikirmi atau dipost terkait metode, alat dan bahan analisis vansoest… beserta dapusnya…. bagimna?saya minta bantuannya

    • itu cuman dari materi kuliah saja dengan revisian dikit. jd ga ada dapus na. hehehe
      kalo ada yg mau ditanyakan lg jg dipersilahkan ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s