Penggunaan Sistem Jours Moyen Retard (JMR)

Definisi

Jours Moyen Retard (JMR) merupakan suatu sistem untuk mendapatkan/ menyim-pulkan satu nilai penampilan reproduksi sapi perah. Secara harfiah diartikan sebagai jumlah hari terlambat.

Penampilan reproduksi merupakan gambaran kondisi reproduksi ternak sapi perah berdasarkan angka/nilai dari berbagai parameter.  Parameter yang biasa digunakan antara lain: panjang siklus birahi; umur dara saat birahi pertama, dikawinkan, dan beranak pertama; selang waktu antara kawin pertama dan beranak pertama; masa kosong (days open); conception rate (CR); service per conception (S/C); selang beranak (calving interval), dan lain-lain.

Dari berbagai parameter tersebut, kita harus menyimpulkan suatu nilai untuk penampilan reproduksi sapi perah.  Berdasarkan nilai ini, evaluasi tatalaksana peternakan dan sifat reproduksi sapi perah dapat dilakukan, lebih baik atau lebih buruk dari periode sebelumnya.

JMR diaplikasikan pada kelompok sapi dewasa (sapi laktasi dan kering kandang) dan sapi dara, yang dalam operasionalisasinya dilakukan dalam bentuk tabel.

Aplikasi JMR pada sapi DEWASA

Tabel JMR untuk kelompok sapi dewasa terdiri atas 15 kolom dan baris yang sesuai dengan jumlah sapi perah.

No

Nama

Sapi

Lakt. ke

VP

Tgl beranak terakhir

IB

Total IB

O/P

D

P

Jarak waktu

Tgl kering

Tgl beranak berikut

Pertama

Terakhir

Partus ke IB I

Days Open

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

13

14

15

1

2

n

1.    Nomor
2.    Identitas sapi

Pada naskah asli JMR, hanya nama atau nomor telinga yang digunakan, namun untuk keperluan lain dapat juga mencantumkan tanggal lahir.

3.    Status laktasi

Diisi angka periode laktasi I, II, III, … , dst.

4.    Voluntary Waiting Period (VP)

VP adalah jangka waktu (dalam hari atau bulan) yang ditetapkan untuk mencapai satu kebuntingan (= target days open).

VP untuk sapi laktasi pertama = 80 hari, berarti 80 hari sejak partus sapi tersebut harus bunting.

VP untuk sapi laktasi kedua, ketiga, dan seterusnya = 60 hari.

5.    Tanggal beranak (partus) terakhir
6.    Inseminasi buatan

Tanggal pelaksanaan IB: kolom 6 = IB pertama dan kolom 7 = IB terakhir.

Jumlah IB dari tiap ekor diisikan pada kolom 8, dihitung berdasarkan kesepakatan dengan catatan 2 kali IB pada satu masa birahi dihitung sebagai 1 kali IB.

Untuk perhitungan secara manual, jika IB baru sekali dilaksanakan, maka tanggal IB pertama tersebut dimasukkan pada kolom 6 saja, untuk perhitungan dengan komputer, maka tanggal IB 1 tersebut dimasukkan dalam kolom 6 dan kolom 7.

7.    O / P

O/P merupakan suatu nilai untuk menyatakan status kebuntingan, nilainya berkisar antara 0 dan 2.

Nilai O/P = 0, untuk

  • Sapi belum birahi
  • Sapi sudah birahi tapi tidak di IB
  • Sapi sudah di IB dan sudah diperiksa kebuntingan dengan hasil negatif.

Nilai O/P = 1, untuk sapi yang sudah di IB tapi belum diperiksa kebuntingan.

Nilai O/P = 2, untuk sapi yang sudah bunting.

8.    Days (D)

D merupakan jumlah dari hari yang dihitung berdasarkan nilai O/P.  Dengan demikian D merupakan jumlah hari terlambat, yang dapat bernilai positif atau negatif.

O/P = 0, maka D = tanggal hitung JMR – tanggal partus terakhir – VP.

9.    Penalty (P)

Penalty adalah jumlah nyata hari terlambat atau [= D (+)]

Jika D bernilai negatif, maka P = 0

Jika bunting, maka sapi tersebut tidak dipenalti, dan kolom ini dikosongkan.

Makin tinggi angka penalti, semakin tinggi jumlah hari terlambat, atau semakin buruk penampilan reproduksi sapi perah tersebut. Atau sebaliknya, makin rendah angka penalti, semakin baik penampilan reproduksinya.

10. Jarak Waktu (dalam hari)

Antara partus dengan IB pertama

Antara partus dengan IB terakhir yang menghasilkan kebuntingan [days open]

11. Tanggal Partus berikutnya

Rata-rata lama bunting sapi perah Indonesia adalah 276 hari

Tanggal partus berikutnya = tanggal IB terakhir yang menghasilkan kebuntingan + 276

Sapi bunting (O/P = 2) ditulis atau dikelompokkan pada baris-baris terakhir. Sapi yang akan beranak lebih dahulu ditulis lebih dulu, sapi yang akan beranak ter-akhir ditulis pada baris paling akhir.

12. Tanggal Mulai Kering Kandang

Secara umum, kering kandang dilaksanakan 2 bulan sebelum partus

Tanggal kering kandang = tanggal partus berikutnya – 60.

 

Keluaran yang dihasilkan sistem JMR untuk kelompok sapi perah dewasa berupa parameter penampilan reproduksi, yakni:

Status laktasi (rata-rata periode laktasi)

Status laktasi

=

Jumlah status laktasi
Jumlah sapi

S/C, service per conception

S/C,

service per conception

=

Jumlah IB pada sapi bunting
Jumlah sapi bunting

Jarak partus ke IB pertama

Jarak partus ke IB pertama

=

Jumlah total hari dari partus ke IB pertama
Jumlah sapi yang di-IB

CR (conception rate) oleh IB pertama

CR oleh IB pertama

=

Jumlah sapi bunting oleh IB pertama

X 100 %

Jumlah sapi bunting

DO, days open

DO,

days open

=

Jumlah hari jarak partus ke bunting
Jumlah sapi bunting

CI, calving interval

CI,

calving interval

=

Days open + 276
30,5

JMR

JMR

=

Jumlah total angka penalti
Jumlah sapi

Aplikasi JMR pada sapi DARA

Tabel JMR untuk kelompok sapi DARA terdiri atas: 15 kolom dan baris yang sesuai dengan jumlah sapi perah.

No

Nama

Sapi

Tgl lahir

Umur

(bln)

VP

IB

Total IB

O/P

D

P

Umur pada saat

Tgl Partus I

Pertama

Terakhir

IB

I

Bunting

I

Partus

I

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

13

14

15

 

1

                           

2

                           

                           

                           

n

                           

1.    Nomor
2.    Identitas sapi
3.    Tanggal lahir
4.    Umur
5.    Voluntary Waiting Period (VP)
6.    Tanggal IB pertama
7.    Tanggal IB terakhir
8.    Jumlah IB
9.    O / P

O/P merupakan suatu nilai untuk menyatakan status kebuntingan, nilainya ber-kisar antara 0 dan 2.

Nilai O/P = 0, untuk

  • Sapi belum birahi
  • Sapi sudah birahi tapi tidak di IB
  • Sapi sudah di IB dan sudah diperiksa kebuntingan dengan hasil negatif.

Nilai O/P = 1, untuk sapi yang sudah di IB tapi belum diperiksa kebuntingan.

Nilai O/P = 2, untuk sapi yang sudah bunting.

10. Days (D)

D merupakan jumlah dari hari yang dihitung berdasarkan nilai O/P.  Dengan demikian D merupakan jumlah hari terlambat, yang dapat bernilai positif atau negatif.

O/P = 0, maka D = tanggal hitung JMR – VP.

11. Penalty (P)

Penalty adalah jumlah nyata hari terlambat atau [= D (+)]

Jika D bernilai negatif, maka P = 0

Jika bunting, maka sapi tersebut tidak dipenalti, dan kolom ini dikosongkan.

Makin tinggi angka penalti, semakin tinggi jumlah hari terlambat, atau semakin buruk penampilan reproduksi sapi perah tersebut. Atau sebaliknya, makin rendah angka penalti, semakin baik penampilan reproduksinya.

12. Umur saat IB pertama

Penalty adalah jumlah nyata hari terlambat atau [= D (+)]

13. Umur saat bunting pertama

Penalty adalah jumlah nyata hari terlambat atau [= D (+)]

14. Umur saat partus pertama

Penalty adalah jumlah nyata hari terlambat atau [= D (+)]

15. Tanggal partus pertama

Penalty adalah jumlah nyata hari terlambat atau [= D (+)]

 

Keluaran yang dihasilkan sistem JMR untuk kelompok sapi dara berupa parameter penampilan reproduksi, yakni:

S/C, service per conception

S/C,

service per conception

=

Jumlah IB pada dara bunting
Jumlah dara bunting

CR (conception rate) oleh IB pertama

CR oleh IB pertama

=

Jumlah dara bunting oleh IB pertama

X 100 %

Jumlah dara bunting

Umur pada saat IB pertama (bulan)

Umur saat IB pertama

=

Jumlah umur dara yang di IB pertama
Jumlah dara yang di IB pertama

Umur pada saat bunting pertama (bulan)

Umur saat bunting pertama

=

Jumlah umur dara yang bunting pertama
Jumlah dara yang bunting pertama

Umur pada saat beranak pertama (bulan)

Umur saat bunting pertama

=

Jumlah umur dara yang beranak pertama
Jumlah dara yang beranak pertama

JMR

JMR

=

Jumlah total angka penalti sapi dara
Jumlah sapi dara

Nilai JMR adalah angka penalti rata-rata, merupakan gambaran umum kondisi penampilan reproduksi sapi perah pada bulan tersebut.  Untuk mempermudah penggunaan JMR, operasionalisasi JMR sebaiknya dilakukan dengan bantuan komputer.

Target JMR

Target merupakan nilai atau angka dari parameter yang harus dicapai dalam selang waktu tertentu.  Target di suatu tempat dapat sama atau berbeda dengan tempat lain, tergantung situasi dan kondisi masing-masing.

Sebagai contoh:

Target JMR di Jepang adalah 10.

Dengan mempertimbangkan berbagai kondisi yang ada, maka target JMR di BPTU Sapi Perah Cikole adalah 30.

Di tingkat peternak, target JMR mungkin berkisar antara 20 sampai 30.

Tanggal : 30 Sepmber 2007.

No

Nama Sapi

Lakt. ke

VP

Tgl beranak terakhir

IB

Total IB

O/P

D

P

Jarak waktu

Tgl kering

Tgl beranak berikut

Pertama

Terakhir

Partus ke IB I

Days Open

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

13

14

15

 

1

987 – Geulis

1

80

03/08/98

0

-22

0

2

642 – Nona

2

60

20/04/98

0

103

103

3

1587 – Ani

1

80

27/08/97

23/03/98

23/03/98

1

0

319

319

208

4

410 – Susi

6

60

15/07/98

12/09/98

12/09/98

1

1

-1

0

59

5

498 – Mari

3

60

10/11/97

21/04/98

27/09/98

8

1

261

261

162

6

408 – Ade

5

60

24/04/97

30/05/97

29/12/97

4

2

189

36

249

02/08/98

01/10/98

7

270 –  Leni

1

80

07/04/97

03/11/97

31/01/98

2

2

201

210

299

04/09/98

03/11/98

8

646 – Eli

2

60

16/03/98

25/04/98

25/04/98

1

2

-20

40

40

27/11/98

26/01/99

9

502 – Lani

2

60

13/05/97

14/11/97

01/05/98

3

2

293

185

353

03/12/98

01/02/99

  Jumlah

23

 

 

   

 

 

 

683

900

941

   

Sumber: Master Kuliah Manajemen Ternak Perah FAPET UNPAD

감사합니다 – Terima Kasih!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s