Seleksi Sapi Perah

SELEKSI BERDASARKAN SILSILAH

Silsilah adalah garis keturunan dari suatu hubungan keluarga antara satu individu dengan individu lainnya yang menjadi tetua atau yang menurunkannya.  Silsilah ini dapat digunakan untuk mengadakan seleksi sapi perah apabila seleksi individu berdasarkan informasi performansnya sulit didapatkan atau tidak ada data-nya, atau untuk ternak-ternak sapi perah muda yang belum berproduksi, atau apabila berhadapan dengan individu-individu yang mempunyai tingkat produksi yang relatif sama.

Seleksi berdasarkan silsilah dilakukan dengan jalan melihat produktivitas dari keluarganya, seperti informasi induk-bapak-nya, nenek-kakek-nya, saudara kandung-nya, dan atau saudara tirinya.

SELEKSI BERDASARKAN CATATAN PRODUKSI

Bagi sapi-sapi yang mempunyai catatan produksi, untuk seleksi betina dinilai dengan metode individual merit testing, sedangkan untuk seleksi pejantan dinilai dengan metode progeny testing (uji Zuriat).

SELEKSI BERDASARKAN HASIL KONTES (Judging Dairy Cattle)

Kriteria penilaian dalam kontes sapi perah didasarkan atas penilaian bentuk luar sapi perah. Dua metode penilaian bentuk luar sapi perah, yaitu:

1.    Penilaian berdasarkan empat sifat utama, meliputi:

  • Penampilan umum         general appearance              30%
  • Karakter sapi perah         dairy character                        20%
  • Kapasitas tubuh               body capasity                          20%
  • Sistem perambingan      mammary system                  30%

Metode ini lebih bersifat kualitatif dengan penilaian (score) untuk masing-masing bagian dari sifat utama, selanjutnya nilai tersebut dijumlahkan dan dikalikan nilai pembobotannya.  Jumlah nilai dari ke empat sifat utama menentukan klasifikasi dari sapi perah yang dinilai, penilaian akhir dicerminkan dalam bentuk angka dan dimasukkan ke dalam klasifikasi sebagai berikut:

  • Excellent              nilai           90 – 100
  • Very good            nilai             85 – 95
  • Good plus            nilai             80 – 84
  • Good                    nilai             75 – 79
  • Fair                       nilai             65 – 74
  • Poor                      nilai             50 – 64

Dalam pelaksanaannya, penilai akan mempertimbangkan juga faktor-faktor se-perti: umur, masa laktasi, masa kering, tingkat produksi, dan kebuntingan.

2.    Metode klasifikasi linier (linear classification)

Disebut metode klasifikasi linier karena setiap sifat dinilai dalam score secara linier, mulai dari angka 1 (satu) sampai dengan 50 (lima puluh) terhadap 15 sifat luar yang telah terbukti mempunyai hubungan sangat erat dengan produksi susu.

Dalam melakukan penilaian secara linear classification, untuk bentuk luar yang normal diberi nilai 25, sedangkan yang kurang baik diberi nilai di bawah 25, dan terhadap sifat yang sempurna diberi nilai 50.

Metode ini diharapkan dapat memberi kemajuan, karena didasarkan atas kisaran penilaian yang lebar, yaitu 50 angka, sehingga memungkinkan gambaran per-bedaan-perbedaan antar individu lebih kelihatan, serta semua sifat yang dinilai mempunyai nilai ekonomis.

Bentuk luar yang dievaluasi adalah sebagai berikut:

  • Tinggi badan (stature)

Pengukuran tinggi badan sapi perah dilakukan di daerah titik persilangan antara garis tulang panggul dan pinggang.

  • Kekuatan sapi (strength)

Evaluasi ditujukan terhadap kekuatan otot dan tulang di sekitar dadanya.  Pe-nilaian dilakukan dari samping dan depan sapi untuk menilai dalam dan lebar dadanya.

  • Kedalaman tubuh (body depth)

Penilaian terhadap sifat ini adalah melihat daerah lengkungan rusuk terakhir.  Sifat ini sering disebut dengan istilah lengkung perut.  Kedalaman dada penting diketahui, karena menggambarkan kemampuan sapi mengkonsumsi hijauan.

  • Ciri khas sapi perah (dairy form)

Pengamatan terutama ditujukan terhadap keharmonisan bentuk, mulai dari leher, gumba, punggung, dan pinggang.

  • Sudut pantat (rump angel)

Penilaian dilakukan dari samping, untuk melihat sudut yang dibuat oleh garis pinggang dan tulang ekor.  Bila bagian ekor lebih tinggi dan membentuk sudut yang tajam dan patah diberi nilai 5, yang normal adalah bila garis punggung dan pangkal ekor menunjukkan garis lurus.

  • Lebar pinggul (thurl width)

Menilai daerah pelvis, yaitu sekitar tuber coxae dan tuber sacrale dengan tuber ischii.  Sifat ini mempunyai hubungan langsung terhadap kemudahan beranak.

  • Kedudukkan kaki belakang (rear legs side view)

Kedudukkan kaki belakang dievaluasi dari samping, perhatian ditujukan pada posisi persendian tumit (hock joint).

  •  Sudut teracak (foot angel)

Perhatian ditujukan kepada posisi sudut kaki belakang terhadap lantai, poda posisi ternak berdiri tegak lurus.

  • Pertautan ambing depan (fore uddder attachment)

Sifat ini ditentukan berdasarkan pengamatan ambing dari samping, dan menilai kekuatan ligament bagian luar.  Evaluasi ini sangagt penting, karena akan menilai kekuatan perlekatan ambing dan kemudahan diperah.

  • Tinggi ambing belakang (rear udder height)

Evaluasi dilakukan dari belakang.  Perlekatan ambing menentukan tinggi ren-dahnya ambing.  Sifat ini menunjukkan kapasitas ambing.

  • Lebar ambing bagian belakang (rear udder width)

Sifat ini menunjukkan kapasitas ambing dan kemampuan ambing dalam mem-produksi susu.

  • Celah ambing (udder cleft)

Penilaian dilakukan terhadap ambing bagian bawah, dilakukan dari belakang sapi.  Yang dinilai adalah kedalaman dari ligament yang menyangga ambing yang memanjang dari depan ke belakang di tengah-tengah ambing.

Sifat ini menggambarkan kekuatan penyangga yang juga menentukan letak/ arah dari puting susunya.

  • Dalam ambing (udder depth)

Dalam ambing digambarkan sebagai posisi relatif dari dasar ambing terhadap sendi tumit dan terhadap garis horizontal.

  • Posisi puting depan (front teat placement)

Kedudukkan puting susu dinilai dari belakang sapi.  Puting susu yang baik memudahkan proses pemerahan

  • Panjang puting (teat length)

Sifat ini ditujukan untuk mengevaluasi panjang puting.  Ukur puting terpanjang apabila panjangnya tidak sama.

Metode klasifikasi linier dapat membantu para peternak untuk memperbaiki ternaknya ke arah produksi yang lebih baik, dengan jalan memperbaiki bentuk luar dari keturunannya.

Misalnya, seekor induk dengan punggung yang jelek (nilai kurang dari 25) harus dicari pejantan unggul yang mempunyai kelebihan dalam hal punggungnya.  Dengan demikian, diharapkan perbaikan atau koreksi terhadap bentuk punggung dari keturunannya.  Perkawinan ini sering disebut sebagai perkawinan koreksi (corrective mating).  Dengan jalan ini peternak dapat mengevaluasi kemajuan ternaknya, paling tidak biasanya dilakukan setiap lima tahun sekali.

Untuk pejantan di luar negeri, sifat-sifat yang telah dinilai melalui anaknya, kemu-dian digunakan untuk mencari nilai pemuliaan (breeding value) untuk setiap sifat.  Di dalam buku katalog pejantan (sire summary), nilai pemuliaan dari sifat-sifat tersebut kemudian digambarkan dalam grafik, sehingga akan memudahkan pencarian pejantan mana yang dikehendaki untuk memperbaiki bentuk luar sapi induk yang dimiliki peternak.

Sumber: Master Kuliah Manajemen Ternak Perah FAPET UNPAD

감사합니다 – Terima Kasih!

5 thoughts on “Seleksi Sapi Perah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s