Limbah Kandang

Limbah_ternak_sapi_pupuk_ternaksapikucom.jpg (523×523)

Limbah kandang terdiri dari feses dan urin yang bercampur dengan alas lantai dan pakan. Jumlah yang dihasilkan sapi perah tiap mencapai kurang lebih 8% dari berat badan, tepatnya tergantung dari jumlah ransum yang diberikan. Seekor Holstein menghasilkan kira 0,04 m3 feses dan urine tiap hari atau 7 m3 selama 180 hari.

Komposisi kotoran sapi sangat bervariasi. Berdasarkan harga, kotoran sapi kurang ekonomis dibandingkan pupuk buatan.

 

KETENTUAN

Membuang bahan perusak atau pencemar ke lingkungan adalah perbuatan melanggar peraturan. Lingkungan disini berarti sungai, kolam, danau, kali, got dan sebagainya. Bahan limbah kandang dapat menimbulkan polusi. Selain itu, bahan limbah kandang berkaitan dengan usaha pertanian yang baik. Memang sudah ada peraturan yang mengatur tentang limbah, akan tetapi perlu juga disiplin dari peternak. Karena itu, peternak harus merancang dan mengatur usaha peternakan sapi perahnya.

Bau menjadi masalah bagi peternakan yang dekat pemukiman. Umumnya, bau karena banyak air terkandung pada limbah kandang yang ditumpuk lama.

 

MEMINDAHKAN LIMBAH KANDANG

Pada lantai bercelah, sapi menginjak feses masuk celah lantai dan feses jatuh ke penampung atau saluran di bawah. Keadaan ini menyebabkan sapi tetap bersih. Jika cukup tersedia air maka kotoran dialirkan ke tempat lain yang lebih dalam. Tindakan ini membutuhkan rancangan agar limbah mengalir ke satu titik pe-nampungan. Saluran yang digunakan mempunyai kedalaman minimal 3% dari panjang ditambah 400 mm agar cairan tidak terpisah dari padatan. Dasar saluran rata dan pada bagian ujung dengan titik temu penampung dengan tingginya kira-kira 150 mm. Jika air tidak cukup tersedia, dapat pula dibuat bak penampung dibawah lantai kandang. Limbah ditumpuk selama beberapa bulan baru dipindahkan. Limbah dipindahkan sambil diaduk.

 

PENANGANAN LIMBAH KANDANG

Sejak awal harus sudah dipikirkan bagaimana menangani dan menyimpan limbah. Limbah dapat langsung disebar ke padang rumput. Untuk hal itu perlu adanya kemiringan tanah atau saluran. Perlu juga dipikirkan tidak terjadi peluapan pada saluran ini.


Penyimpanan waktu singkat

Agar tidak perlu melakukan pembuangan pada akhir pekan atau musim hujan sebaiknya dibuat tempat penampungan sementara. Limbah setengah padat yang terdiri dari cukup sisa pakan dan alas lantai dibuang menggunakan garu lalu ditampung di bak kecil. Setelah penuh, limbah disebarkan ke padang rumput. Limbah yang lebih banyak mengandung air ditampung pada bak atau lubang yang lebih besar. Pembuatan lubang harus memperhatikan agar jangan sampai menjadi penampung air. Setelah itu baru limbah dipindahkan ke tempat penyimpanan yang lebih permanen dengan usaha mengurangi kandungan air yang terdapat didalamnya.

Tempat penampungan sementara membutuhkan biaya pembuatan murah dan sedikit tenaga kerja diperlukan untuk mengosongkannya. Hanya sayangnya kerja menjadi rutin dan terjadi kerusakan pada padang rumput dan struktur tanah.

 

Penyimpanan waktu lama

Seluruh limbah selama beberapa bulan dapat disimpan lama. Penampungannya dapat menggunakan silo menara atau bak rel.

a.   Silo Menara

Silo berdiameter 19 m dan tinggi 4,6 m mempunyai kapasitas 15.000 m3. Buangan dipindahkan ke dalam silo menggunakan pompa. Penyimpanannya membutuhkan tatalaksana yang hati-hati. Pengadukan harus sering dilakukan agar pengerakan tidak terlalu menjadi tebal. Kandungan alas dan lantai harus minimum. Dengan demikian, diperlukan pula tempat penyimpanan padatan lainnya. Silo menara dapat menyimpan limbah dalam kondisi campuran ideal dan penyebarannya dalam waktu optimum. Pembuatan silo menara mahal.

b.   Bak rel

Rel disusun hingga menyerupai bak dapat digunakan menyimpan limbah. Lantainya dibuat miring. Limbah diletakkan dibagian yang tinggi sehingga cairan mengalir dan merembes celah-celah dinding. Cairan dikumpulkan dan disebarkan ke padang rumput. Setelah beberapa waktu, padatan dapat dipindah dan disebarkan.

c.   Bak Tanah

Tanah digali sehingga membentuk bak tanah. Tanah galian digunakan lagi untuk membentuk dinding. Tanah digali dengan kedalaman 1,2 m dan dinding dibuat setinggi itu pula sehingga total ada 2,4 m.  Dinding dibuat hati-hati jangan sampai mudah pecah.

Pada penyimpanan ini, bahan organik limbah dicerna oleh bakteri aerobik dan cenderung terjadi lapisan-lapisan limbah. Bahan berserat naik ke permukaan membentuk kerak tebal. Di bawahnya terdapat lapisan cairan bening. Paling bawah lumpur berpasir mengendap tenggelam.

Pengosongan harus memperhatikan cairan yang ada. Cara yang mudah adalah memindahkan cairan dulu. Cairan dipindahkan tanpa terganggu oleh lumpur dan padatan menggunakan saluran dari bak bercelah. Bak dibuat dari rely yang masing-masing di las berjarak 25 mm.  Padatan tertahan oleh rel sedangkan cairan tetap mengalir. Cairan dapat dikeluarkan menggunakan pompa atau saluran pipa dan digunakan kembali. Padatan sisa mudah ditangani secara konvensional.

Daya tampung bak dapat dihitung berdasarkan jumlah produksi limbah tiap hari tiap ekor, jumlah ternak dan jumlah hari. Pagar setinggi 600 mm sebaiknya ditegakkan di pinggir bak. Saluran air menembus ke dalam tanah di tengah bak sebaiknya tidak dibuat.

Sebaiknya dibuat pagar kawat berduri di sekeliling bak sehingga ternak dan anak-anak tidak dapat masuk.

 

PENGALIRAN AIR

Kotoran ternak dan sekitarnya dapat mengotori air yang tergenang terutama pada permukaan semen. Air dapat berasal dari lokasi peternakan sendiri ataupun dari air hujan. Setiap 100 ekor sapi menghasilkan genangan air seluas 800 m2. Curah hujan setinggi 25 mm menghasilkan 20.000 liter air, yang sebagian akan tergenang.

Untuk mengatasi masalah itu, mula-mula lantai harus tetap bersih lalu limpahan air hujan jatuh ke parit dan mengalir. Air kotor dapat disebar ke padang rumput atau disimpan dulu dan kemudian dibersihkan. Harus diingat bahwa sia-sia membersihkan cairan silase dan air buangan sapi.

Penyimpanan memberi kesempatan kepada organisme patogen dan cacing untuk hidup. Organisme itu misalnya Salmonela, Brucella, Leptospira, Myco-bacterium dan virus. Pada keadaan aerob, mikroorganisme patogen berkurang.

Penyebaran air dan limbah kadang dapat juga berarti menyebarkan bibit penyakit. Infeksi penyakit dapat terjadi bila sapi minum air yang sudah tercemar. Untuk mencegah hal ini, jaga jangan sampai air tercemar masuk ke bak air minum atau jangan menyiram air tercemar bila tanah kurang atau tidak mampu menyerap air.

Sumber: Master Kuliah Manajemen Ternak Perah FAPET UNPAD

감사합니다 – Terima Kasih!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s