Herba untuk Bahan Pangan dan Penjaga Kesehatan Saluran Pencernaan (Part 2)

Keseimbangan Mikrobiota pada Saluran Pencernaan

Sistem pencernaan meliputi mulut, kerongkongan, lambung, hati, kantung empedu, pankreas, usus halus, dan usus besar. Dimulai dengan tahap pencernaan makanan secara mekanik dalam mulut yang kemudian dilanjutkan dengan proses penyerapan gizi makanan di usus dan pada saat itu pula zat-zat mulai berinteraksi dengan mikrobiota yang berbagai macam jenis dan jumlahnya berlimpah. Usus besar manusia mengandung lebih dari 500 spesies bakteri, dan hampir 99%nya adalah jenis anaerobik. Bakteri-bakteri ini memiliki biomassa lebih dari 100 trilyun mikroorganisme/cm3. Mereka mempunyai aktivitas metabolik dan enzimatik yang akan berpengaruh terhadap gizi dan kesehatan hostnya.

Mikroflora dalam usus besar dapat memfermentasi zat-zat makanan yang tidak dapat dicerna di usus halus. Ada dua tipe proses fermentasi yang terjadi dalam usus besar yaitu sakarolitik (fermentasi karbohidrat) dan proteolitik (fermentasi protein). Aktivitas mikroflora ini merupakan sebagai cara untuk menjaga produk akhir dari fermentasi sakarolitik dan proteolitik. Fermentasi sakarolitik dapat dimetabolisme menjadi energi oleh host (pengaruh positif) dan sebaliknya produk akhir dari fermentasi proteolitik adalah zat kimia (senyawa N-nitroso, ammonia, amine, dll) yang bisa menjadi racun bagi host (pengaruh negatif).

Beberapa strain bakteri yang ada dalam usus seperti Streptococcus bovis, Helicobacter pylori terlibat dalam patogenesis kanker usus. Sebaliknya beberapa strain bakteri yang juga ada di usus seperti Lactobacillus acidophilus menunjukkan aktivitas yang berlawanan yaitu bisa menghambat proses berkembangnya kanker di usus yang diinduksi oleh zat karsinogenik. Oleh karena itu keseimbangan diantara bakteri yang “menguntungkan” dan yang “merusak” dapat memberikan implikasi yang besar terhadap berkembang atau tidaknya suatu penyakit dalam host. Telah dilaporkan bahwa berubahnya proporsi mikroba dalam usus mempengaruhi bioaktivasi zat karsinogenik atau dengan kata lain dapat mengubah juga risiko terjadinya kanker. BERSAMBUNG…..

*) Prof. Dr. Latifah K. Darusman. Kepala Pusat Studi Biofarmaka IPB Bogor.

Artikel dalam majalah “FOOD REVIEW” Vol. V, No. 3, Maret 2010

감사합니다 – Terima Kasih!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s