Herba untuk Bahan Pangan dan Penjaga Kesehatan Saluran Pencernaan (Part 3)

Herba-herba untuk Bahan Pangan Kesehatan Pencernaan

Mayoritas hasil dari penelitian saat ini menunjukkan bahwa komponen bioaktif herba yang berperan dalam mekanisme penjagaan kesehatan pencernaan termasuk ke dalam golongan polifenol. Tidak dipungkiri karena secara umum senyawaan polifenol juga banyak terdapat dalam sayur-sayuran dan buah-buahan. Oleh karena itu, beberapa herba yang telah dikaji manfaatnya untuk memelihara sistem kesehatan pencernaan adalah herba yang kaya akan senyawaan polifenol seperti pada teh dan kunyit.

Teh merupakan herba yang telah dikonsumsi secara luas dan juga dikenal sangat kaya akan senyawaan fenolik seperti epikatekin, katekin, asam galat, asam kafeat, dll. Esktrak teh diidentifikasi dapat memberikan hambatan terhadap perkembangan bakteri patogen dalam usus. Sementara itu, bakteri “ramah” seperti bifidobakteri dan lactobacillus relatif tidak terpengaruh oleh kehadiran senyawaan fenolik teh.

Selain menjadi salah satu tumbuhan obat yang paling sering digunakan dalam ramuan jamu tradisional, kunyit juga umum digunakan sebagai rempah dalam resep makanan baik itu sebagai pewarna maupun sebagai pemberi nuansa rasa. Fungsi fisiologis kunyit disebabkan karena kandungan senyawaan fenoliknya seperti kurkumin dan kurkuminoid. Ekstrak kunyit memperlihatkan efek hambatan terhadap pertumbuhan bakteri patogen Helicobacter pylori. Lebih jauh lagi, ekstrak kunyit juga dapat memberikan efek hambatan terhadap perlekatan Helicobacter pylori dalam saluran pencernaan manusia.

Masih terdapat banyak tumbuhan obat yang secara kimia kaya akan kandungan polifenol. Oleh karena itu tidak menutup kemungkinan herba-herba yang lain yang kaya akan polifenol dijadikan bahan makanan untuk kesehatan pencernaan. Tanaman lain yang dapat dicoba antara lain temulawak, salam, daun seledri, rimpang jahe, rimpang temu kunci, daun katuk, daun beluntas, dan daun jati belanda. Tetapi tetap harus memperhatikan bahwa pencampuran herba ke dalam makanan tidak menyebabkan rusaknya nutrisi komponen utama, memberikan sifat sensori yang dapat diterima oleh konsumen, dan tidak menyebabkan hilangnya fungsi fisiologis herba itu sendiri akibat proses pembuatan dalam makanannya.

) Prof. Dr. Latifah K. Darusman. Kepala Pusat Studi Biofarmaka IPB Bogor.

Artikel dalam majalah “FOOD REVIEW” Vol. V, No. 3, Maret 2010

감사합니다 – Terima Kasih!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s